Thursday, April 12, 2012

Eternal Starling (Emblem of Eternity #1)

Judul : Eternal Starling (Emblem of Eternity #1)
Author : Angela Corbett
Edisi : eBook, bahasa Inggris

 A love so strong, even eternity can’t separate them. 
Evie Starling has lived a relatively uneventful life hanging out with friends, gossiping about boys, and driving her 1966 Mustang. All of that changes when she moves to Gunnison, Colorado, to start college and meets two mysterious men. 
For centuries, Alex Night and Emil Stone have yearned for Evie—but they each have their own reasons for wanting to be with her. When both men claim to be her soul mate and tell her about an unbelievable past, Evie learns that she’s not the person she thought she was. Soon, Evie finds herself in the middle of an age-old battle between the Amaranthine Society—the soul protectors, and the Daevos Resistance—the soul destroyers. With a past she doesn’t understand, and a future rife with danger, Evie has to decide who she can trust. But Alex and Emil aren’t the only ones who want Evie, and her soul is about to become the rope in an eternal tug-of-war.-Goodreads

Meskipun kesan pertamaku tentang buku ini adalah 'tipikal' tapi ternyata isu reinkarnasi Evie bukan reinkarnasi biasa. Biasanya, kalau aku baca buku-buku yang tokoh utamanya mengalami reinkarnasi, aku bakalan dapat pola seperti ini: si cewek mengalami reinkarnasi, jiwanya masuk ke dalam tubuh baru. Si cowok, yang di masa lalu jatuh cinta sama cewek tersebut, ternyata adalah makhluk paranormal yang bisa hidup lama (biasanya malaikat)dan menghabiskan berabad-abad untuk mencari si cewek di kehidupan selanjutnya. Memang sih, aku juga mendapatkan pola tersebut di Eternal Starling, tapi karena cowok yang jatuh cinta sama Evie ada dua orang--keduanya adalah cowok seksi dan bikin aku berliur--jadi aku tertarik buat baca buku ini.

Evangeline 'Evie' Starling bertemu dengan Alex Night saat dia tersesat di hutan. Nggak lama kemudian, Alex dan Evie kelihatan banget saling jatuh cinta. Evie memang merasa Alex sangat aneh. Evie merasa Alex menyembunyikan beberapa hal dari Evie, dan Alex kelihatannya selalu ada saat Evie butuh dia. Karena Alex bisa dibilang mimpi yang jadi kenyataan, Evie nggak peduli dan berkencan dengan Alex. Semuanya baik-baik saja, sampai Evie dan Alex melihat seseorang di taman dan membuat Alex ketakutan banget. Dimulailah segala omong kosong aku-harus-meninggalkanmu-demi-keselamatanmu, dan akhirnya mereka putus. Pada titik ini, aku merasa kecewa banget sama Alex. Evie memutuskan untuk move on, dan dia ketemu sama Emil Stone. Cowok itu menciumnya di hari pertama mereka bertemu, di depan teman-temannya. Evie langsung merasakan semacam connection sama Emil, dan dia juga merasakannya dengan Alex. Tentu aja perasaan itu bikin Evie bingung, apalagi saat dia pertama kali menyentuh baik Alex maupun Emil, dia mengalami semacam mimpi aneh di kepalanya.

Turns out, ternyata Alex adalah anggota Amaranthine Society. Penjelasannya sungguh ribet dengan masalah Dewi, soulmate, dan semacamnya. Intinya, jiwa Evie adalah salah satu jiwa yang diberi soulmate abadi dari si Dewi. Jiwa Evie akan terus mengalami reinkarnasi. Evie sendiri ternyata adalah soulmate si Alex, dan mereka memiliki semacam ikatan yang meskipun nggak terlalu diperhatikan Evie, tapi membuat Alex merana. Amaranthine Society bertugas untuk melindungi jiwa-jiwa ini dari Daevos Resistance, yang ingin menghancurkan jiwa-jiwa seperti milik Evie. Dan Emil adalah anggota Daevos. Tapi karena Emil yakin dia juga mencintai Evie dan percaya Evie adalah soulmate dia, Evie jadi galau.

Yah, memang sih yang nggak biasa dari buku ini cuma adanya dua orang yang percaya bahwa Evie adalah soulmate mereka. Tapi entah kenapa aku juga ikut mengalami dilemanya Evie. Alex dan Emil sama-sama baik padanya, sama-sama sempurna. Sepertinya Angela Corbett berhasil menyeimbangkan peran Alex dan Emil. Evie sendiri, yah, dia memang agak temperamental. Dia gampang kesal sama Alex karena Alex memutuskan tutup mulut soal masa lalu mereka. Bukunya sendiri bukan buku golongan 'berat' karena aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu sekitar tiga hari meskipun pake bahasa Inggris (biasanya lima hari).

Dan buku ini lumayan cocok dibaca saat capek membaca mengenai vampir dan makhluk-makhluk supernatural lainnya.

Rating 

4 Out of 5

Saturday, April 07, 2012

Ninth Key - Kunci Kesembilan (The Mediator #2)

Judul: Ninth Key - Kunci Kesembilan (The Mediator #2)
Author: Meg Cabot
Edisi: Indonesia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Maret 2010)
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani

Hantu-hantu merusak segalanya. Apalagi kehidupan cintamu. 
Semuanya berjalan asyik bagi Suze. Kehidupan barunya di California penuh pesta dan menyenangkan. Tad Beaumont, cowok paling keren di kota, mengajak Suze kencan! Saking senangnya, Suze sampai rela mengabaikan segala kekurangan Tad... terutama bahwa Tad bukan Jesse, sang hantu supertampan yang diam-diam ditaksir Suze. Tapi ada satu yang tak bisa diabaikan Suze: hantu wanita yang kematiannya sepertinya berhubungan dengan rahasia kelam masa lalu Tad Beaumont.-Goodreads

Buku pertamanya, Shadowland atau Negeri Bayang-bayang, sudah kureview. Di akhir buku itu, Suze Simon akhirnya mulai merasa nyaman berada di rumah barunya di Carmel, California. Setidaknya, di sana dia punya teman-teman seperti Cee-Cee Webb, seorang albino yang lidahnya tajem tapi cerdas, dan Adam McTavish, cowok yang biasa-biasa aja tapi gaya humornya lumayan. Dia juga ketemu mediator lain, Pastor Dominic, dan setidaknya dia nggak perlu makan dari restoran pesan-antar karena ayahnya, Andy Ackerman, adalah koki yang hebat.

Cerita bukunya dimulai saat Suze berada di kantor Pastor Dominic, membicarakan mengenai kasus kemediatoran. Suze seperti biasa agak merajuk mengenai kehidupannya sebagai Mediator (catatan: Suze memandang kemampuannya sebagai kutukan, dan Pastor Dom menganggap menjadi mediator adalah berkah). Kemudian ketika Pastor Dom bertanya apakah ada kejadian supernatural selama seminggu terakhir, Suze jadi ingat seorang wanita yang menjerit-jerit di kamarnya, meminta Suze menyampaikan pada "Red" bahwa Red tidak membunuhnya. Dengan bantuan Cee-Cee, Suze jadi tahu bahwa Red itu adalah Thaddeus Beaumont, seorang pengusaha real estate di kawasan Monterey. Dan kebetulan juga, anak Mr. Beaumont, Tad, sepertinya juga naksir sama Suze. Dimulailah 'petualangan' Suze menyelidiki siapa sebenarnya wanita yang menjerit-jerit itu dan apa hubungannya dengan keluarga Beaumont. Suze sendiri jadi bingung karena kemudian Jesse bertingkah kayak pacar yang cemburu saat Tad mengantar Suze pulang ke rumahnya dan mencium Suze. Dan Suze juga nggak nyangka kalau dia ternyata nyaris membongkar usaha pembunuhan-pembunuhan sadis yang ditutup-tutupi, membuat Suze sendiri berada dalam bahaya.

Mungkin secara pribadi aku nggak begitu suka sama buku ini. Sebenarnya, Suze dan Jesse juga bertingkah biasa-biasa saja. Tapi aku agak pusing sama karakter-karakter lain. Anyway, Meg Cabot tetap membuatku terpaku, dan aku rasa 4 bintang nggak akan berlebihan buat menilai buku ini.

Rating 
4 Out of 5

The Hunger Games (The Hunger Games #1)

Judul: The Hunger Games (The Hunger Games #1)
Author: Suzanne Collins
Penerbit Indonesia: Gramedia Pustaka Utama (edisi Maret 2012, cover film)
Penerjemah: Hetih Rusli
Website: www.thecapitol.pn

 Dua puluh empat peserta. 
Hanya satu pemenang yang selamat.
 Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12. 
Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh. 
Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.-Goodreads

Novel dengan genre post-apocalyptic pertama yang kubaca. Negara Amerika Utara kini sudah musnah, dan di reruntuhannya berdirilah negara Panem, dengan Capitol sebagai ibu kota. Capitol dikelilingi dua belas distrik dengan masing-masing tugasnya sendiri. Distrik 12, tempat tinggal Katniss Everdeen, adalah distrik untuk penambangan batu bara. Katniss tinggal dengan adiknya, Primrose, dan ibunya, di Seam, wilayah termiskin di Distrik 12. Dia bersahabat dengan Gale Hawthorne, sesama pemburu.

The Hunger Games mengingatkanku sedikit mengenai Theseus dan Labirin Kreta, dimana pemuda-pemudi dikumpulkan untuk membunuh Minotaurus. Di buku ini, masing-masing distrik harus mengirimkan satu cewek dan satu cowok, rentang usia 12-18 tahun, untuk berpartisipasi dalam The Hunger Games. Aturannya sederhana. Jadilah peserta terakhir yang hidup, membunuhlah jika diperlukan, bertahan hiduplah, dan kau akan dikembalikan ke distrikmu dan dilimpahi hadiah-hadiah dan kekayaan dari Capitol.

Capitol sendiri merupakan gambaran pemerintahan distopia yang sempurna: mereka adalah tiran, mereka mengatur segalanya dan tidak mau mengakui kesalahan sedikitpun. Orang-orang Capitol dilimpahi harta kekayaan, sedangkan dua belas distrik harus bersusah payah agar tetap bertahan. Capitol menggunakan taktik ancaman dan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka, dan mereka tidak segan-segan menghukum (baca: membunuh) siapa saja yang mencoba melawan mereka atau menyuarakan ketidaksukaan mereka pada Capitol. Terbukti, ketika pemberontakan terjadi, hasilnya adalah The Hunger Games, yang mengingatkan pada rakyat Panem bahwa Capitol-lah yang berkuasa. Ketika Prim terpilih, diantara ribuan nama, Katniss mengajukan dirinya untuk menggantikan Prim.

Katniss tipe jagoan cewek yang kuat, mandiri, tapi kebebalannya dalam menyadari perasaannya sendiri pada Peeta Mellark membuatku pengen nampol kepalanya. Katniss sebenarnya rendah diri, cerdas, tapi tetap saja dia keras kepala dan melihat segala sesuatunya dari sisi buruk. Dia nggak mau mempercayai bahwa Peeta benar-benar mencintainya, padahal tanda-tandanya udah sejelas matahari di langit. Dia hanya menganggap pernyataan cinta Peeta padanya hanyalah taktik agar rakyat Panem bersimpati pada distrik mereka. Yah, bayangkan aja seperti ini: Peeta mencintai Katniss. Tapi di The Hunger Games, mereka akan sampai pada titik dimana mereka harus saling membunuh untuk menjadi pemenang. Berarti itu cinta yang tragis kan? Karena kejadian seperti itu kayaknya nggak pernah ada dalam sejarah The Hunger Games, Peeta dan Katniss menjadi sorotan.

Peeta Mellark juga cowok yang baik. Di awal-awal buku, aku masih agak ragu sama dia. Tapi kemudian aku bisa melihat kalau Peeta memang bersungguh-sungguh pengen melindungi Katniss. Dia jadi terjebak di tengah-tengah kegalauan Katniss. Katniss sendiri kelihatannya ada 'rasa' sama Gale juga, tapi ketika The Hunger Games berlangsung, Katniss mulai menyadari kalau Peeta berarti buat dia. Ada titik dimana Katniss dan Peeta harus menampilkan kemesraan mereka demi penonton, tapi ada juga saat Katniss hanya ingin momen itu untuknya dan Peeta sendiri.

Gale. Oh, poor Gale. Aku memang aslinya menyukai Liam Hemsworth, pemeran Gale, jadi agak susah untuk menyukai Peeta ketika hatiku buat Gale (apaan coba??). Memang penampilannya nggak sebanyak Peeta di buku ini. Tapi aku agak terhibur karena Katniss juga sadar kalau dia 'ada rasa' sama Gale, membandingkannya dengan Peeta. Gale sendiri emang udah keliatan ada rasa sama Katniss


"Kau tahu, kita bisa melakukannya," kata Gale pelan. 
"Apa?" tanyaku. 
"Meninggalkan distrik. Lari. Tinggal di hutan. Kau dan aku, kita bisa berhasil," sahut Gale. 
-halaman 16

Tokoh-tokoh lain di buku ini juga bukan jenis tokoh yang kehadirannya bisa kauabaikan dan peran mereka sangat nggak kecil. Misalnya saja Effie Trinket yang nyentrik. Cinna, penata busana Peeta dan Katniss. Haymitch Abernathy, pemenang The Hunger Games dari distrik 12 yang meskipun pemabuk ternyata lumayan cerdas juga. Rue, anak dari Distrik 11 yang sempat menjadi sekutu Katniss, tapi kemudian tewas mengenaskan dan membuat Katniss bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Cato, anak dari Distrik 2 (diperankan sama Alexander Ludwig), pembunuh yang sebenernya agak nggak cocok sama tampang kerennya Alex Ludwig. Mereka adalah karakter-karakter yang meskipun berperan sebentar, tapi ikut membangun cerita. Keberadaan mereka nggak bisa dianggap enteng.

Aku harus mengingatkan diri untuk bernapas dengan normal setelah baca buku ini. Dan aku juga berteriak pada diriku sendiri, dasar bodoh! Gimana bisa aku ngelewatin buku sebagus ini? Satu-satunya pembelaanku adalah aku nggak begitu getol baca novel saat aku masih SMP. Dan bagus sekali, saat aku bikin review ini, lagunya Taylor Swift Safe and Sound (soundtrack dari filmnya sendiri) lagi diputar di iTunes-ku. Pas banget buat suasananya (nggak nyambung). Tapi soundtracknya (baik Safe and Sound maupun Eyes Open--atau Eyes Wide Open ya?) benar-benar nyambung sama bukunya, dan aku nggak nahan buat nyetel lagu-lagu itu saat baca bukunya.

Suzanne Collins tahu gimana caranya mencampur dunia distopia, membuat distopia terasa sangat nyata dan menegangkan. Nggak akan ada yang bisa membayangkan Amerika Serikat sebagai negara lain selain Amerika Serikat. Selain itu, perpaduan romance dan pertempuran untuk survival, juga karakter-karakter yang hidup dan menarik, membuatku nggak bosan saat membacanya. Dystopian never felt so amazing before. Aku juga angkat jempol buat Mbak Hetih Rusli, yang berhasil menerjemahkan The Hunger Games dengan sangat rapi. Satu-satunya penyesalanku adalah nggak membaca buku ini lebih awal.

May the odds be ever in your favor.

Rating 
5 Out of 5

Oh ya, saat ini aku terdaftar sebagai warga Distrik 7 (nggak penting).


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...